A Reason

A Reason

Hello, lama tidak menulis karena kemalasaan saat PMS mulai muncul hehe 

Sebuah alasan… Aku tidak tau bagaimana dunia bekerja dengan segala kerumitannya. Hidup ini seperti sebuah permainan kecerdasan dimana yang tidak bisa mengikuti pasti akan tertinggal. Saat ini bumi kita sedang sakit, virus Covid-19 adalah musuh yang tak dapat dilihat dengan mata telanjang. Banyak orang berhati-hati dan banyak pula yang tenggelam dalam kebodohan. Pembahasan tentang virus ini tidak akan ada habisnya, menghadapi orang-orang bodoh juga sangat melelahkan. Aku dan keluarga membahasnya dengan satu frekuensi, kami sama-sama dimaki oleh orang-orang super bodoh. Ayah bangga dengan kami karena cukup rasional menghadapi dunia… Semoga orang tua kami dapat menyaksikan kami saat dewasa.



 Dalam percakapan ini, ada satu cerita menarik dari uni. 

Hey yoo aku pernah ada disituasi itu. Sampai nyaris depresi, kalau bukan karena uni mungkin aku sudah depresi dan menjadi agnostik…naudzubillah. Saat itu aku sangat lemah, sering menangis dan membaca syahadat karena takut keluar jalur. Tetapi akupun tidak bisa menceritakannya ke orang-orang karena mereka pasti menjudge dan menilai aku sudah gila ataupun kerasukan setan hehe. Aku benci dengan orang-orang seagamaku yang bodoh, kenapa banyak sekali orang bodoh di agamaku. Seperti itulah pikiranku saat itu… Fortunately aku menyadari kesalahanku di waktu yang tepat. Tentunya bukan hanya karena usahaku mencari kebenaran, melainkan juga doa orang-orang yang menyayangiku. Keadaanku yang sangat buruk memubuat hubunganku dan sahabatku menjadi renggang. Kami tidak ingin menyakiti satu sama lain.


Saat ini aku senang sekali, kondisi mentalku jauh lebih membaik dan aku senang karena tidak membenci orang lain seperti dulu. Aku ingin cerita banyak sekali, tapi sekarang perutku sakit karena nyeri haid huhuu





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lover

Intro

Dia yang sepertinya layak dicintai