Aku Benci Kucing
Kucing itu kecil dan terlantar seperti jiwaku yang tersesat dalam pertanyaan tanpa menemukan jawabannya. Kucing ringkih itu ragu-ragu melewati jalanan kampus yang ramai. Dengan motorku, aku menghadang jalanan kampus yang ramai agar kucing ringkih itu bisa melaluinya dengan selamat. Aku membantu kucing itu bukan karena aku baik, tapi karena aku melihat diriku disana. Iya, aku yakin kalau aku tidak sebaik dan se-mulia itu. Sedari kecil, aku sering melihat ayah mengusir kucing dengan gertakan atau ibuku yang mengusirnya dengan sapu. Sejak kapan aku mulai perhatian dengan makhluk lain selain diriku?. Pada suatu hari aku harus pergi ke kampus untuk berorganisasi. Dalam perjalanan, aku melihat seekor kucing diseberang jalan yang sangat ramai. Aku sudah siaga untuk menghentikan motorku yang saat itu melaju dengan perlahan. Kemudian tepat didepan motorku, kucing itu berlari menyebrangi jalanan. Oh Tuhan, aku menjerit sambil memejamkan mata. Berdoa semoga ku...