Layak dicintai
Disini aku
menemukan ruangku yang ingin menceritakan semua hal tanpa mengatakannya
Beberapa teman lelaki yang kukenal
adalah tipe ideal bagi teman-temanku. Hingga salah satu temanku berkata “Jika
aku dan A seiman mungkin aku akan menyukainya sebagai lelaki. Frid kenapa kamu
nggak suka sama si A saja? Menurutku ia lebih baik dari I ”. Pertanyaan 2 tahun
silam tiba-tiba menggaung di pikiranku seraya memandang si A dan mencari sisi
“layak dicintai”. Beberapa alasan “layak dicintai” muncul didalam sisi rasional
kepalaku. Si A adalah lelaki yang lemah lembut, sopan, perkataannya baik dan
juga suaranya sangat bagus. Begitu loveable kataku dalam hati. Lain halnya
dengan AB, lelaki yang kata teman introverku sangat menarik. Temanku begitu
tertutup sampai aku tidak menyangka jika ia menyukai AB dalam diam. Aku tidak
mengenal AB dengan baik dan jarang sekali mengobrol. Hari ini aku mengobrol
banyak hal karena kebetulan AB duduk disampingku. Sebelumnya aku tidak mencari
alasan ia “Layak dicintai”, tetapi dalam ruang obrolan yang mengalir, aku
menemukan sisi menarik dalam dirinya. Ia selalu menatap mata lawan bicaranya,
gestur tubuhnya seperti mengatakan “aku sedang benar-benar berbicara padamu”,
pembicaraan yang sangat menarik karena banyak hal yang ia ketahui, perkataannya
begitu rasional dan tertata. Aku rasa jika si AB memiliki kekasih, mereka akan
menjadi pintar bersama dan hidup dengan tujuan yang jelas.
Aku bisa
mencintai banyak orang karena sejatinya aku berkeinginan untuk tidak membenci
siapapun didunia ini
Malam ini kita memasak di kontrakan teman-teman
lelaki. Ketika kita makan, A dan AB duduk tepat didepanku. Keduanya memang
memiliki sifat menarik dan attitude yang baik. Si A menunggu kami semua
mengambil makanan sebelum ia mengambil makanannya sendiri. Si AB dari tadi
menawarkan uangnya karena merasa bersalah tidak ikut memasak. Dua sikap yang
tidak aku temukan pada teman-teman lainnya saat itu. Setiap orang memiliki sisi
baiknya sendiri untuk disebut “layak dicintai” dan aku menemukan sisi baik
tersebut pada hampir semua orang. Tetapi aku tidak menemukannya dalam diriku
sendiri. Alasan sebenarnya hanya satu yaitu aku tidak cukup mencintai diriku. Ketika
bercermin, selalu kuucapkan dengan lisanku betapa cintanya aku pada diriku. Tetapi
otakku selalu merasa tidak puas dan dengan liarnya menghujat diriku sendiri.
Komentar
Posting Komentar